BIOGRAFI KH. YAHYA CHOLIL STAQUF: DERAP LANGKAH DAN GAGASAN

Sinopsis

Hampir mustahil memperbincangkan Nahdlatul Ulama dalam satu dekade terakhir tanpa menyebut KH. Yahya Cholil Staquf. Perannya sangat penting dalam menjaga dan melanjutkan kiprah NU pada tataran global. Bahkan, ia juga melakukan banyak terobosan untuk memperluas cakupan pengaruh Islam Indonesia sebagai komunitas muslim terbesar di dunia. Ia terlibat aktif dalam berbagai macam kegiatan internasional dalam rangka membawa misi perdamaian.

Sebagai seorang ulama yang sarat dengan teks-teks klasik Islam yang ketat, Gus Yahya memiliki keunikan tersendiri karena memiliki pisau analisis sosiologis. Selain mondok selama lima belas tahun di Krapyak, ia juga menyantri di Universitas Gajah Mada pada jurusan sosiologi. Analisis sosiologis ini sangat kental dalam percikan-percikan pemikirannya dalam melihat permasalahan dan tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama saat ini dan di masa yang akan datang. Selain itu, Gus Yahya juga memiliki perspektif yang berbeda dalam melihat persoalan global, khususnya permasalahan Islam dan masyarakat Arab di Timur Tengah. Ia tak terjebak dalam paradigma esensialis dan mampu melihat persoalan tersebut dalam paradigma pasca-kolonialisme.

Dalam banyak tulisannya, Gus Yahya sangat irit berbicara tentang dirinya sendiri sehingga sulit untuk menemukan elaborasi yang cukup mendalam tentang latar belakang dan kehidupan pribadinya. Buku ini dimaksudkan untuk mengisi kekurangan tersebut.


Kata Pengantar

BUKU INI lahir dari proses tak sengaja. Penulis mengenal nama KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya berawal dari kontroversi kunjungannya ke Israel dalam rangka menjadi pembicara dalam kegiatan American Jewish Committee (AJC). Penulis termasuk yang melihat kunjungan tersebut kontraproduktif dengan usaha untuk mencapai kemerdekaan dan perdamaian Palestina. Hal ini memantik penulis untuk mengetahui lebih dalam sosok Gus Yahya. Setelah membaca dari berbagai sumber, terutama yang diulas oleh media masa, pandangan penulis tak banyak berubah sampai kemudian menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Gus Yahya: Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama. Dari buku inilah penulis dapat memahami secara utuh pandangan dan sikap intelektual Gus Yahya dan menemukan hal-hal yang tak terduga dari sikapnya terhadap masalah Israel dan Palestina.

Penulis melihat, sebagai seorang kiai di pesantren, Gus Yahya memiliki keunikan tersendiri dari kiai-kiai yang lain. Di samping menguasai teks-teks kajian Islam klasik yang ketat, ia juga memiliki pisau analisis ilmu sosial. Selain menekuni pendidikan pesantren selama kurang lebih 15 tahun di Krapyak, ia juga belajar sosiologi di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Analisis sosiologis ini sangat kental dalam pemikiran- pemikirannya, khususnya dalam melihat dunia Islam. Dan yang tak kalah penting adalah analisis-analisisnya terhadap persoalan dan tantangan yang dihadapi oleh Nahdlatul Ulama. Ia memiliki cara pandang yang tajam dan menawarkan pemikiran-pemikiran yang sangat realistis. Namun, Gus Yahya sendiri sangat irit berbicara dan menulis tentang dirinya sendiri sehingga masih cukup sulit untuk menemukan ulasan yang cukup lengkap tentang kepribadiannya. Buku ini salah satunya dimaksudkan untuk mengimbangi kekurangan tersebut.

Dalam penulisan buku ini, penulis diilhami oleh C. Wright Mills tentang hubungan timbal balik antar sejarah (history) dan biografi (biography). Dua-duanya memiliki peran penting. Sejarah dibentuk oleh aktor-aktor dan sebaliknya sejarah sebagai struktur sosial yang lebih besar juga membentuk aktor. Dalam penulisan buku ini, penulis mencoba untuk menghadirkan konteks yang lebih besar untuk melihat bagaimana struktur tersebut membentuk Gus Yahya dan, sebaliknya, bagaimana ia sendiri terlibat dalam usaha membentuk sejarah.

Buku ini terwujud atas dorongan dan kontribusi banyak pihak, terutama Gus Yahya yang telah bersedia untuk diganggu di tengah-tengah kesibukannya. Penulis berutang budi yang besar atas kontribusi tersebut. Namun, tanggung jawab atas penulisan buku ini sepenuhnya ada pada penulis.

Jakarta, 11 Desember 2021

Septa Dinata


Daftar Isi

Kata Pengantar ~ v

Daftar Isi ~ vii

Daftar Gambar ~ ix


BAGIAN SATU ~ 1

Masa Kecil di Tanah Kelahiran ~ 3

Mewarisi Darah Ulama Besar ~ 11

Sosok Ayah ~ 11

Sosok Kakek ~ 15

Sosok Buyut ~ 18

Sosok Paman ~ 19

Merantau ke Yogyakarta ~ 21

Nyantri di Krapyak ~ 21

Nyantri di UGM ~ 26

NU Cilik dan Santri Tulen ~ 31

Mengurus Politik Lokal dan Menunaikan Rukun Islam ~ 35

Gus Dur ~ 39

Terjun Dunia Politik ~ 55

Kembali Mengurus Jam’iyyah ~ 65

Muktamar NU ke-32 di Makassar dan Menjadi Katib PBNU ~ 65

Kongres XIV GP Ansor, Surabaya ~ 66

Kiprah Internasional ~ 69

Diundang Wakil Presiden Amerika Serikat ~ 73

Bertandang ke Israel ~ 79


BAGIAN DUA ~ 85

Dunia yang Berubah ~ 87

Perubahan tata politik dunia ~ 88

Perubahan Demografi ~ 89

Perubahan Standar Norma ~ 91

Globalisasi ~ 94

Merespon Perubahan ~ 97

Merespons Perubahan dan Merefleksikan Kembali Kelahiran NU ~ 99

NU dan Piagam Jakarta ~ 103

Keluar dari Masyumi ~ 104

Ideologi Tunggal Pancasila ~ 105

Pekerjaan Rumah ~ 107

Merumuskan Kembali Tata Kelola Jam’iyah ~ 113

Menuju Pemerintahan NU ~ 121

Daftar Jabatan Keorganisasian dan Profesional ~ 129

Daftar Pidato dan Ceramah Penting dalam Forum Nasional dan Internasional ~ 131

Daftar Pustaka ~ 133

Tentang Penulis ~ 137



Komentar

Postingan populer dari blog ini

POST-INDEPENDENCE NU DYNAMICS TOWARDS THE ESTABLISHMENT OF THE NU OUTLINE AS A DECISION OF THE SITUBONDO CONGRESS 1945-1984

PERSEPSIKU TENTANG GUS DUR

MUSYAWARAH BERSAMA NU MUSLIMAT DAN FATAYAT RANTING SUKOSARI