PERSEPSIKU TENTANG GUS DUR

Gus Dur lahir di lingkungan keluarga pesantren dengan nuansa kehidupan ala santri yang kental dan kemudian menjalani kehidupan berikutnya di berbagai lingkungan yang ditemuinya. Sebenarnya Gus Dur secara sengaja maupun tidak sudah berada di lingkungan pergaulan yang luas sejak kecil karena bapaknya yaitu KH. Wahid Hasyim merupakan salah satu pejabat negara pada masanya. Hal itu membuat Gus Dur menjadi terbiasa berinteraksi atau paling tidak sudah pernah berada di lingkungan yang berbeda dengan lingkungan keluarga dimana dia dilahirkan. Tidak hanya pejabat biasa namun KH. Wahid Hasyim merupakan pejabat yang sejak berdirinya negara sudah terlibat dalam pemerintahan bahkan terlibat dalam proses pembentukan negara.

Selain itu Gus Dur juga merupakan cucu dari KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri ormas Islam terbesar yaitu Nahdlatul Ulama. Tempat dimana Gus Dur kelak juga turut mengabdikan sebagian pikiran dan tenaganya. KH. Hasyim Asy’ari seorang Kyai pesantren yang menuntut ilmu di berbagai tempat—termasuk di Hijaz dimana para Kyai Nusantara lain juga turut menuntut ilmu. Keluarga Gus Dur dari jalur ibu juga kurang lebih sama yaitu dari keluarga pesantren dimana ibunya meskipun tidak terlibat secara langsung dalam pemerintahan sebagai pejabat negara tetapi paling tidak juga sempat terlibat di ruang publik.

Gus Dur kemudian tumbuh dengan mengenyam pendidikan di berbagai tempat—termasuk di pesantren. Posisinya yang merupakan anak dan cucu tokoh publik masyhur serta ibunya yang juga terlibat dalam aktivitas di ruang publik membuat Gus Dur menjadi pemuda yang mendapat sorotan. Apalagi dengan budaya pesantren yang memberikan penghormatan atau paling tidak perhatian lebih bagi keturunan Kyai—terlebih lagi Gus Dur tidak hanya keturunan dari Kyai biasa. Hal tersebut menjadikannya secara otomatis mendapat sorotan yang kemudian membentuknya menjadi seorang Gus yang tidak asing dengan sorotan publik yang seringkali menyilaukan atau terkadang mengenyahkan.

Selain itu Gus Dur juga menjadi terbiasa membangun pikiran yang terbuka, entah disengaja ataupun tidak. Hal itu bisa terjadi karena batas-batas kehidupan di ruang privat dan publik Gus Dur seolah sudah tidak ada. Mungkin ketika masih masa belajar, Gus Dur dapat menikmati kehidupannya di ruang privat dengan hanya menjadi santri pada umumnya—meskipun sekali lagi Gus Dur bukan hanya santri atau Gus biasa. Namun hal itu otomatis hilang ketika Gus Dur ikut terlibat dalam berbagai peristiwa yang terjadi di ruang publik.

Sayangnya Gus Dur seperti tidak terpengaruh dengan hal semacam itu. Ini terjadi karena Gus Dur memiliki keteguhan hati dan watak glonoh dalam menghadapi berbagai hal yang menjadikannya seolah tidak memiliki rasa takut terhadap apapun. Semua dilalui Gus Dur dengan sikap yang bagi sebagian kalangan terlihat kontradiktif dengan sikap-sikapnya yang lain. Sebenarnya hal itu bisa dipahami dengan mencari tahu nilai-nilai yang dipegang Gus Dur dan konteks apa yang sedang dihadapinya pada waktu sikap itu diambil.

Salah satu contoh yang dapat menggambarkan hal tersebut adalah saat pasukan berani mati berniat datang ke Jakarta. Pasukan berani mati tersebut hendak datang ke Jakarta untuk membela Gus Dur ketika diturunkan sebagai presiden namun diredam sendiri oleh Gus Dur. Sementara di tempat yang lain salah seorang sahabat terdekat Gus Dur yaitu Gus Mus menyatakan dirinya sebagai pasukan berani hidup. Posisi yang berbeda antara Gus Dur dan Gus Mus menjadikan wujud dari nilai yang penulis yakini diperoleh dari ajaran pesantren dengan bunyi “nyawa lebih penting dari jabatan” tersebut juga turut berbeda. Gus Dur di satu sisi meredam sendiri pasukan berani matinya, sementara di sisi lain, Gus Mus menyatakan diri sebagai pasukan berani hidup dimana keduanya sebenarnya memegang nilai yang sama meskipun dengan perwujudan yang sekali lagi berbeda.

Perjalanan Gus Dur di ruang publik relatif panjang. Sebenarnya jika hanya memilih terlibat aktif di dunia sosial saja posisi Gus Dur akan relatif lebih aman. Namun bukan Gus Dur namanya kalau tidak mengambil sikap terhadap setiap peristiwa politik yang tentu selalu berpengaruh pada kehidupan sosial. Jejaring pikiran dan gerakan dibangun oleh Gus Dur yang menjadikannya memiliki kekuatan baik secara sosial maupun politik. Sebenarnya jika hanya melakukan kritik untuk sebatas jadi penyeimbang pemerintah yang pada waktu itu dinilai oleh banyak kalangan bersifat represif, posisi Gus Dur sebagai pemimpin gerakan sosial akan relatif lebih aman. Gus Dur dengan situasi yang ada akhirnya menjadi presiden dan membuatnya harus menjadi pemimpin politik atau lebih tepatnya negara.

Ideal-ideal Gus Dur sebagai manusia sebenarnya dipersempit dengan berbagai jabatan yang diembannya—termasuk menjadi presiden. Namun begitulah manusia yang hidup di dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Berbagai pilihan yang diambil tidak akan sepenuhnya ideal bagi setiap kelompok termasuk individu, tapi paling tidak ideal-ideal yang coba dicapai oleh Gus Dur adalah ideal semesta yang menghilangkan keakuan diri dimana hal itu dengan sendirinya malah menjadikan Gus Dur sebagai realitas ideal manusia pada masanya yang dekat dan juga dapat disaksikan sekaligus dirasakan teladannya bagi manusia-manusia lain.

Wallahu A’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POST-INDEPENDENCE NU DYNAMICS TOWARDS THE ESTABLISHMENT OF THE NU OUTLINE AS A DECISION OF THE SITUBONDO CONGRESS 1945-1984

MUSYAWARAH BERSAMA NU MUSLIMAT DAN FATAYAT RANTING SUKOSARI