MANUSIA NU

NU dengan trilogi ukhuwah yang dimiliki membuat orang-orangnya dapat bergaul dan diterima di berbagai kalangan. Trilogi ukhuwah tersebut berupa ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah dan Bashariyah. Kerangka persaudaraan yang begitu tepat digunakan sebagai pegangan bagi setiap orang. Kerangka persaudaraan yang sungguh universal dan tanpa celah hingga dapat membingkai kehidupan manusia yang tinggal di berbagai tempat dan lebih jauh lagi tidak hanya relevan untuk dipakai oleh orang NU saja.

NU memang dapat hidup seiring dan sejalan dengan nilai-nilai yang tumbuh di berbagai tempat. Tetapi apakah dengan watak tersebut, semua hal menjadi dengan sendirinya otomatis disetujui oleh NU? Tidak begitu juga. NU terkadang memang terbaca ambigu oleh berbagai kalangan dengan beberapa sikap yang diambil. Hal tersebut dapat terjadi karena para pembacanya tidak mengerti nalar NU dalam setiap sikap dan langkah yang diambil. Tetapi bagi orang-orang yang sudah bergumul bersama NU dengan intensitas yang cukup tinggi akan dapat membacanya dengan mudah.

Layaknya teks, NU lahir dan juga tumbuh dengan dilingkupi oleh konteks tertentu. Perubahan konteks terkadang membuat suatu teks menjadi terkesan tidak relevan. Tetapi NU tidak hanya sebatas teks saja, tetapi teks sekaligus konteks itu sendiri. NU tidak hanya dibentuk oleh realitas saja, tetapi juga merupakan pencipta dari berbagai realitas tersebut, sehingga membaca NU sebagai teks dan konteks akan terasa lebih tepat.

NU hidup dan tumbuh tidak hanya sebagai struktur organisasi, tetapi juga sebagai kultur di tengah masyarakat. Orang akan dengan mudah melihat bahwa mayoritas orang Indonesia memiliki watak sebagaimana NU. Dulu banyak kalangan sulit memahami NU, terlebih orang di luar NU. Hal tersebut bisa jadi karena artikulasi soal NU memang masih terbatas. Apa yang ditangkap oleh berbagai kalangan pada waktu itu mengenai NU biasanya tidak jauh-jauh dari penggambaran bahwa NU itu kolot, tertinggal, anti terhadap kemajuan dan lain-lain.

Kalau persoalan kesulitan untuk memahami NU hanya terkait artikulasi, berarti tinggal menunggu waktu saja soal bagaimana orang dapat memahami NU. Tetapi akan menjadi susah juga kalau hal-hal substansial seperti prinsip-prinsip serta nilai-nilai mendasarnya yang menjadi persoalan. Kalau prinsip-prinsip serta nilai-nilai yang dipegang sudah tidak pas maka artikulasi apa pun tetap tidak dapat membantu.

Kebetulan yang menjadi persoalan bagi NU hanyalah soal artikulasi. Persoalan tersebut terbukti dapat teratasi berkat semakin banyaknya artikulasi soal NU, baik dari orang NU sendiri maupun dari para peneliti luar. Hal tersebut membuat NU dengan cepatnya meluas dikenal hingga ke mana-mana. Sekarang seperti hampir mustahil membayangkan bahwa NU hanya dikenal dan terdiri dari orang-orang bersarung saja. Saya sendiri juga sebenarnya bersarung, tetapi banyak juga orang yang sama-sama mencintai NU, tetapi secara kultur berangkat dari latar belakang yang tidak sama. Tetapi ya NU juga.

Saat dunia sedang menghadapi berbagai tantangan, sebenarnya NU dibaca oleh beberapa kalangan dapat menjadi solusi. Nilai-nilai seperti trilogi ukhuwah, cara hidup sebagaimana orang NU dan kekuatan yang dimiliki merupakan potensi yang sungguh-sungguh besar. NU dengan kerja dan kerja sama yang dilakukan selama ini membuatnya menjadi begitu dicintai tidak sebatas karena diperlukan dukungannya, tetapi lebih dari itu NU memang terbaca semakin fungsional dan tertata.

Orang terkadang bertengkar, tapi toh rasa cinta yang ada terhadap NU selalu menetap dan tumbuh. Begitulah NU yang culturally sudah terbentuk selama berabad-abad menjadi sedemikian mapan. Dengan apa pun yang dialami dan terjadi sampai saat NU resmi berdiri pada tahun 1926, cara NU yang begitu natural memandang dan membaca dunia tidak pernah kehilangan arah. Pada momentum tertentu mungkin sempat tergagap-gagap dan terkaget-kaget, tetapi hal tersebut tidak membuat pengalaman hidup yang sudah dilalui hingga saat ini, sejengkal pun mengurangi kebesaran NU.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POST-INDEPENDENCE NU DYNAMICS TOWARDS THE ESTABLISHMENT OF THE NU OUTLINE AS A DECISION OF THE SITUBONDO CONGRESS 1945-1984

PERSEPSIKU TENTANG GUS DUR

MUSYAWARAH BERSAMA NU MUSLIMAT DAN FATAYAT RANTING SUKOSARI