PBNU: PERJUANGAN BESAR NAHDLATUL ULAMA
Sinopsis
Ketika Nahdlatul Ulama didirikan, Nusantara berada di bawah penjajahan Belanda, dikenal dengan sebutan Hindia Belanda. Itu sebabnya ketika Turki Usmani dikalahkan dalam perang dunia pertama, sebetulnya Nusantara tidak ikut kalah, sebab kita bukan bagian dari Turki Usmani. Delapan tahun setelah Perang Dunia Pertama, pada 1926, atau 1344 H, NU didirikan.
Melalui kacamata sekarang, kita bisa mengatakan bahwa cita-cita pendirian NU adalah cita-cita peradaban. Kekhalifahan Islam tumbang dalam perang dan kemudian terkubur selamanya. Dunia sedang mengalami penyusunan ulang, demikian pula peradaban baru. Hanya saja pada waktu itu belum cukup wawasan untuk membangun nalar tentang bagaimana perjuangan di tengah-tengah perubahan momentum sejarah. Yang ada hanya wangsit-wangsit hasil istikharah. Bahkan gambar jagat yang menjadi lambang NU, itu adalah hasil istikharah.
Daftar Isi
Manifesto
Abstraksi
Bab I
Islam di Tengah Dunia yang Berubah
Bab II
Merintis Peradaban baru
Bab III
Mengenali Jati Diri dan Kehendak Organisasi
Bab IV
Menuju Pemerintahan Nahdlatul Ulama
Bab V
Makrifat Organisasi dan Takdir Peradaban
Tentang Penulis
Abstraksi
Nahdlatul Ulama dilahirkan dengan mengusung cita-cita peradaban, yaitu mewujudkan tata dunia yang harmonis dan adil berdasarkan akhlaqul karimah dan penghormatan terhadap kesetaraan martabat di antara sesama manusia. Strategi menuju cita-cita itu diawali dengan konsolidasi basis, yaitu memberdayakan jama'ah (komunitas) sebagai kekuatan kultural untuk merawat nilai-nilai luhur dan NKRI sebagai titik-tolak sosial-politik untuk terlibat dalam pergulatan antar bangsa. Selanjutnya, keseluruhan gerak NU harus koheren (padu) dalam nalar strategi dan pengorganisasiannya dari tingkat lokal sampai tingkat global.
Konstruksi organisasi NU yang ada saat ini belum cukup mengalami penyesuaian sehingga formatnya relatif tidak berubah sejak 1952. Hal ini mengakibatkan NU cenderung semakin kedodoran dalam menanggapi masalah-masalah yang datang semakin deras dan terancam menjadi irrelevan. Oleh sebab itu diperlukan transformasi konstruksi organisasi agar lebih cocok dengan konteks realitas kekinian dan masa depan. Konstruksi organisasi itu meliputi pola konfigurasi agenda-agenda yang ditetapkan, pola hubungan antara jam'iyyah dengan jama'ah, struktur pengorganisasian dalam pelaksanaan agenda-agenda, mekanisme-mekanisme rekrutmen kepemimpinan dan kualifikasi personalia kepemimpinan dan pelaksana program.
Pada dasarnya, format ideal bagi konstruksi organisasi NU adalah format pemerintahan dengan fungsi-fungsi utama: menyediakan pelayanan bagi warga, menetapkan dan menerapkan regulasi agar pelayanan dapat diakses secara adil dan transparan dan mobilisasi sumberdaya-sumberdaya serta redistribusinya bagi instrumen-instrumen organisasi dan warga. Untuk mencapai format ideal itu diperlukan bukan hanya transformasi struktur dan format manajemen, tapi juga transformasi pola pikir (mindset) dan mentalitas.
Tanggung jawab dan tantangan NU di masa depan yang semakin luas dan beragam menuntut inklusifikasi khidmah dan kebangkitan dalam tiga jalur pergulatan, yaitu kebangkitan intelektualisme, kebangkitan teknokrasi dan kebangkitan kewirausahaan.
Yahya Cholil Staquf
Adalah salah satu pendiri gerakan-gerakan global "Humanitarian Islam" (Islam Untuk Kemanusiaan), sebuah gerakan yang berjuang untuk merekontekstualisasi pemahaman keagamaan dalam Islam yang dapat melanggengkan kebencian, kekerasan dan sikap "mau menang sendiri" dalam beragama. Gerakan ini ingin mengembalikan prinsip Rahmah (cinta dan kasih sayang universal) ke posisinya sebagai pesan utama dari ajaran Islam. Gus Yahya, yang juga menjabat sebagai Katib 'Am (Sekretaris Umum) Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), organisasi Muslim terbesar di dunia dengan anggota lebih dari 50 juta anggota dan memiliki sekitar 14.000 madrasah, mempelopori upaya membawa kearifan dan spiritualitas Islam Nusantara ke panggung dunia, di mana pemahaman Islam yang galak, represif dan tak jarang penuh kekerasan telah mendominasi selama beberapa dekade.
Gus Yahya lahir dari garis keluarga besar Kyai Bisri Mustofa di Rembang, Jawa Tengah. Sejak kecil Gus Yahya telah menerima pendidikan formal dan spiritual Islam dari ayahnya, kakeknya dan pamannya. Gus Yahya kemudian menjadi murid atau santri dari ulama terkenal yang pernah menjadi Rais 'Am Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Ali Maksum (1915-1989) dan di bawah bimbingan beliau ini Gus Yahya belajar ilmu-ilmu Islam di Pondok Pesantren Munawir, Krapyak, Yogyakarta. K.H. Ali Maksum sendiri adalah murid dari Syeh Umar Hamdan al-Makki (1858-1948) dan Syeh Hasan Masshat al-Makki (1900-1979) di Mekah dan juga menjadi guru dari beberapa tokoh modern Indonesia yang amat berpengaruh, termasuk Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009) presiden Indonesia yang pertama dipilih secara demokratis dan juga K.H. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus (1944-sekarang), seorang ulama, budayawan, pelukis dan salah satu pemimpin karismatik NU, yang juga paman dari Gus Yahya Staquf.
Pada 2014 Gus Yahya ikut mendirikan Bayt ar-Rahmah li ad-Da'wa al-Islamiyah Rahmatan li al-'Alamin (Rumah Rahmah untuk Dakwah Islam sebagai Rahmat Bagi Alam Semesta) di Amerika Serikat. Organisasi ini berperan sebagai pusat jaringan penghubung untuk ekspansi kegiatan NU di panggung dunia.
Sebagai Direktur Urusan-urusan Keagamaan (Modir), Gus Yahya berusaha mewujudkan visi Presiden Abdurrahman Wahid untuk mendukung upaya mengerahkan energi di Dunia Barat untuk menyelaraskan pemahaman tentang ajaran Islam dengan prinsip kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia di dunia modern.
Berdasarkan visi Presiden Wahid dan komitmen kuat pada kebenaran, Gus Yahya menggerakkan otoritas lembaga Muslim Sunni yang besar untuk bekerja sama dalam proyek rekontekstualisasi teologis yang luas dan jelas untuk pertama kalinya sejak abad pertengahan.
Serangkaian deklarasi bersejarah yang telah disusun oleh Gus Yahya menjadi basis bagi upaya pembaharuan ini, seperti ISOMIL Nahdlatul Ulama Declaration (2016); First Global Unity Forum Declaration (2016); Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor tentang Humanitarian Islam (2017); dan yang terbaru, Nusantara Statement dan Manifesto Nusantara (2018). Melalui Resolusi dan Keputusan Bersama, Bayt ar-Rahmah dan Gerakan Pemuda Ansor, yang beranggotakan 5 juta orang, secara resmi mengadopsi Manifesto Nusantara.
Manifesto ini didasarkan pada tradisi pembaruan (tajdid) yang sejak lama telah dipraktekkan oleh para ulama Indonesia sebagaimana dicontohkan oleh Presiden Wahid. Esainya yang penting, "Tuhan Tidak Perlu Dibela," dimasukkan dalam Bagian 11.3 dari Manifesto tersebut. Upaya keras Gus Yahya dalam memperjuangkan rahmah sebagai basis untuk resolusi konflik dipuji oleh para pakar internasional dan dikutip oleh sponsor kampanye internasional yang memperjuangkan NU dan Muhammadiyah agar memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian. Buku berjudul Dua Menyemai Damai--yang diterbitkan pada Januari 2019 oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian, Universitas Gadjah Mada--mendeskripsikan kampanye Islam Nusantara; Deklarasi ISOMIL Nahdlatul Ulama; Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor tentang Humanitarian Islam; Manifesto Nusantara dan perjalanan bersejarah Kyai Yahya ke Yerusalem, yang berhasil "merintis jalur baru menuju perdamaian [antara Israel dan Palestina] melalui misi yang diinisiasi oleh Gus Dur dan dilanjutkan oleh Kyai Yahya Staquf."
Gus Yahya adalah mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang kedudukannya secara protokoler setara dengan menteri. Ia sering dimintai pertimbangan untuk persoalan-persoalan keagamaan, persoalan dalam negeri dan hubungan internasional.
Saat ini ia menjabat sebagai Duta Ansor untuk Dunia Islam dan Utusan Partai Kebangkitan Bangsa (yang berakar pada sayap spiritual NU) untuk Centrist Democratic International (IDC-CDI) dan European People's Party (EPP)--jaringan politik terbesar di Eropa dan dunia. Beliau berusaha membangun konsensus masyarakat "Untuk mencegah usaha memperalat agama Islam demi kepentingan politik, entah itu oleh Muslim atau non-Muslim dan mencegah penyebaran kebencian komunal dengan mendorong terbentuknya tatanan dunia yang harmonis dan adil berdasarkan penghormatan atas kesetaraan hak asasi dan martabat manusia."--Nusantara Statement
Yahya Cholil Staquf
Rembang: Mata Air Publishing, 2020

Komentar
Posting Komentar